
Kediri – Sidang putusan kasus pembunuhan yang melibatkan Natanael Srihaditama (22) menyisakan amarah dan kekecewaan. Kristianto, paman korban, tak kuasa menahan emosinya saat majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri menjatuhkan vonis 11 tahun penjara kepada Nata, sapaan akrab terdakwa.
“Dua nyawa hanya dihargai 11 tahun? Ini terlalu ringan! Kami kehilangan SR dan bayinya,” seru Kristianto dengan suara bergetar di ruang sidang. Kasus ini bermula dari hubungan gelap antara Nata dan SR (17), seorang siswi SMK yang juga jemaat di gereja tempat ayah Nata bertugas sebagai pendeta.
Setelah berpacaran selama lima bulan, SR diketahui hamil, dan kabar tersebut menjadi beban berat bagi Nata, yang saat itu sedang menempuh pendidikan calon pendeta.
Tak ingin rahasianya terbongkar, Nata merancang rencana keji. Pada Jumat, 15 Oktober 2010, ia mengajak SR datang ke gereja dengan berjalan kaki. Sesampainya disana, mereka menuju sebuah ruangan di bagian belakang, tempat mereka kerap bertemu secara sembunyi-sembunyi.
Di tengah momen intim mereka, Nata tiba-tiba mengeluarkan seutas kabel yang telah disiapkan sebelumnya. Dengan cepat, ia menjerat leher SR hingga tewas. Setelah memastikan korban tak bernyawa, ia lalu membawa jasad SR ke area perkebunan tebu di samping gereja.
Dengan bantuan tangga, ia memanjat tembok setinggi 4 meter dan melemparkan tubuh korban ke dalam kebun. Keesokan harinya, warga yang tengah mencari rumput menemukan mayat SR dalam kondisi terlentang tanpa identitas.
Kejadian ini langsung menghebohkan masyarakat sekitar dan berujung pada penyelidikan intensif yang akhirnya mengarah pada penangkapan Nata. Sidang vonis yang dipimpin oleh hakim Basuki Wiyono berlangsung ricuh, terutama karena hukuman yang dijatuhkan jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebelumnya meminta 17 tahun penjara.
Keluarga korban pun segera menyatakan niat mereka untuk mengajukan banding, berharap ada keadilan bagi SR dan janin yang dikandungnya. Kasus ini menjadi pengingat betapa kejamnya seseorang bisa bertindak demi menutupi aibnya sendiri, bahkan terhadap orang yang pernah dicintainya