Isu Zulhas dan Banjir Sumatera, PAN Bantah Keras Narasi yang Dinilai Sarat Kepentingan Politik
Minggu, 07 Desember 2025 | 13:34 WIB
Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat pada akhir 2025 tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga memicu kegaduhan di dunia maya. Di tengah upaya warga dan pemerintah fokus pada penanganan darurat, nama Zulkifli Hasan tiba-tiba ikut terseret dalam percakapan publik. Sejumlah unggahan di media sosial mulai menyudutkan Ketua Umum PAN tersebut dan menudingnya bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang disebut-sebut menjadi akar bencana.
Isu itu menyebar dengan cepat. Sebuah potongan video dokumenter lama yang menampilkan aktor Hollywood Harrison Ford saat mewawancarai Zulhas pada 2013 kembali muncul dan dipakai sebagai “bukti tambahan” untuk menguatkan tuduhan. Narasi yang berkembang menyebut bahwa kebijakan pada masa jabatannya sebagai Menteri Kehutanan telah meninggalkan persoalan yang baru meledak di tahun 2025.
Menanggapi hal itu, PAN mengambil sikap tegas. Ahmad Yohan, salah satu politisi PAN, menyatakan bahwa apa yang beredar sama sekali tidak didukung oleh logika maupun data. Menurutnya, menghubungkan banjir 2025 dengan kebijakan seorang pejabat yang menjabat lebih dari satu dekade sebelumnya adalah bentuk manipulasi informasi yang tidak dapat diterima. Ia menyebut narasi tersebut sebagai hoaks yang berpotensi menjadi fitnah.
Yohan menegaskan bahwa publik perlu melihat rekam jejak Zulkifli Hasan secara lebih objektif. Selama menjabat Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan menginisiasi program “Gerakan Satu Miliar Pohon” yang melibatkan masyarakat luas dan lembaga pemerintah. Ia juga mengeluarkan moratorium izin pemanfaatan hutan yang berdampak langsung pada perlindungan jutaan hektare kawasan hutan di Indonesia. Dari sisi data, laju deforestasi juga tercatat mengalami penurunan signifikan pada masa jabatannya, jauh berbeda dari era sebelumnya yang menunjukkan kehilangan hutan dalam skala besar.
Sementara itu, potongan video dokumenter Harrison Ford yang kembali muncul dinilai Yohan tidak menggambarkan kondisi sebenarnya. Potongan tersebut dianggap tidak memberikan ruang bagi Zulkifli Hasan untuk menjelaskan kebijakan dan pencapaian yang sudah dilakukan. Menurutnya, tayangan itu hanya menunjukkan sebagian kecil percakapan dan lebih menonjolkan kesimpulan sepihak pembuat dokumenter, sehingga mudah menimbulkan salah persepsi bagi publik yang tidak mengetahui konteks penuh.
Yohan juga melihat bahwa isu ini bukan sekadar perdebatan tentang lingkungan, tetapi ada aroma kepentingan politik yang cukup kuat. Ia menduga ada pihak yang memanfaatkan situasi bencana untuk menyeret nama Zulkifli Hasan dengan tujuan menjatuhkan citra politiknya. Apalagi saat ini Zulhas memegang posisi strategis sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan dan sedang terlibat dalam sejumlah program nasional penting.
Menurut Yohan, penyebaran informasi keliru di tengah bencana hanya akan memecah perhatian publik dan pemerintah, padahal yang dibutuhkan sekarang adalah fokus pada penanganan korban, pemulihan infrastruktur, dan upaya pencegahan bencana lanjutan. Ia meminta masyarakat agar tidak mudah terbawa arus narasi yang tidak diverifikasi dan tetap menggunakan akal sehat dalam menerima informasi yang beredar.
Di tengah situasi darurat, PAN menegaskan bahwa menyebarkan tuduhan tanpa dasar bukan hanya merugikan individu, tetapi juga melemahkan upaya bersama dalam menghadapi bencana. Perdebatan politik yang tidak berdasarkan data, menurut mereka, hanya mengaburkan masalah sebenarnya: perlunya perbaikan tata kelola lingkungan secara berkelanjutan dan konsisten dari masa ke masa.
