Al Masoem

Cara Menyikapi Kegagalan Anak Secara Tepat

28 Apr 2022  |  445x | Ditulis oleh : Admin2
Cara Menyikapi Kegagalan Anak Secara Tepat

Orangtua mana yang tidak ingin anaknya berprestasi. Akan tetapi, banyak orangtua yang malah tergelincir dari keinginannya tersebut. Alih-alih mendampingi anak meraih prestasi, orangtua justru cenderung memaksakan kehendak dan ambisinya kepada anak. Ini yang kerap menjadi persoalan pada perkembangan anak.

Ada sebagian orangtua yang memiliki ambisi pribadi untuk diwujudkan anaknya. Hal tersebut dapat menghambat proses anak meraih prestasi sesungguhnya. Masih banyak orangtua yang kabur pemahamannya mengenai prestasi.

Seringnya, prestasi anak diukur dari bentuk, ukuran, dan jumlah. Banyaknya piala, nilai baik di sekolah, hingga titel juara pada kompetisi. Padahal prestasi adalah target dan pencapaian seseorang yang ditentukan oleh diri sendiri. Jika berbicara prestasi pada anak, bisa diartikan pencapaian yang datang dari target masing-masing anak.

Prestasi anak tak melulu diukur pada saat ia sudah duduk di bangku sekolah. Bahkan sejak usia dini, anak sudah dapat membuat prestasi sendiri. Ini yang penting bagi orangtua untuk mengenali potensi anak masing-masing. Tak jarang anak dianggap sulit berprestasi karena tidak diarahkan pada potensinya.

Mengukir prestasi bagi anak merupakan proses pembelajaran. Selain mengasah bakat yang sudah dibawa sejak lahir, anak juga dapat berprestasi melalui hobi yang disukainya. Kepemilikan talenta pada anak bisa menjadi sia-sia jika orangtua tidak mampu memberinya ruang untuk bertumbuh dan diasah. Kejelian orangtua saat menemani anak bereksplorasi di usia dini menjadi momen penting.

Dalam perjalanan mengukir prestasi, terdapat satu saat yang paling kerap ditakuti orang-orang, yakni menderita kegagalan. Kegagalan anak lazim dikaitkan dengan ketidaksempurnaan, keburukan, ketidakmampuan, dan momen kekalahan.

Apalagi bila kegagalan menerpa anak yang sedang berjuang mencetak prestasi. Sering momen ini berdampak terhadap trauma, kemurungan, malahan menyebabkan orangtua dan keluarga jadi cemas dan gusar.

Peristiwa kegagalan krusial untuk anak. Bila kegagalan berlangsung ketika anak sedang berjuang, itu merupakan prestasi paling berharga untuk hidupnya. Bila anak gagal meraih juara, gagal menang, itu pertanda ia sudah mencoba dan belajar.

Langkah berikutnya yang dapat dikerjakan orangtua ialah menemani anak untuk melalui masa kegagalannya dan meyakinkan pada anak agar tak menyerah.

Ada berbagai pelajaran yang dapat dikaji dari kegagalan. Bila orangtua menjadikan kompetisi selaku ajang untuk anak buat mencoba kemampuan dirinya, peristiwa kegagalan akan gampang jadi batu loncatan anak untuk memperbaiki dirinya.

Tidak sedikit kisah sukses yang bermula dari kemampuan bangkit dan sanggup mengatasi kegagalan tersebut. Manusiawi memang bila orangtua jadi kecewa atas kegagalan anak. Tetapi ada baiknya orangtua tak terlampau fokus terhadap kegagalan,  namun cara pandangnya diubah pada seberapa besar upaya anak sampai dapat mencapai babak tertentu.

Baca Juga: